Senin, 26 September 2011

DHAMMACAKKHAPAVATTANA SUTTA


DHAMMACAKKHAPAVATTANA SUTTA
(Khotbah Pemutaran Roda Dhamma)

  1. Demikianlah yang saya dengar:
Pada suatu ketika Sang Bhagava bersemayam di dekat kota Benares, di Isipatana, di Taman Rusa (Migadaya).

  1. Di sana, Sang Bhagava bersabda kepada rombongan lima orang Bhikkhu (Assajji, Vappa, Bhadiya, Kondanna, Mahanama), demikian: dua hal yang berlebihan (ekstrim) ini, O, para bhikkhu, tidak patut dijalankan oleh mereka yang telah meninggalkan rumah untuk menempuh kehidupan tak berkeluarga

  1. “Menuruti kesenangan hawa nafsu yang rendah, yang tidak berharga dan tidak berfaedah, biadap, duniawi; atau melakukan penyiksaan diri, yang menyakitkan, tidak berharga dan tidak berfaedah. Setelah menghindari kedua hal yang berlebih-lebihan ini, O, para bhikkhu Jalan Tengah yang telah sempurna diselami oleh Tathagata, yang membukakan mata batin, yang menimbulkan pengetahuan, yang membawa ketentraman, kemampuan batin luar biasa, kesadaran agung, dan perealisasi Nibbana.

  1. Apakah, O, para bhikkhu, jalan tengah yang telah sempurna, telah diselami oleh Tathagata, yang membukakan mata batin, yang menimbulkan pengetahuan, yang membawa ketentraman, kemampuan batin luar biasa, kesadaran agung, dan perealisasi Nibbana itu ?
Tiada lain Jalan Mulia Berunsur Delapan, yaitu:
    • Pengertian Benar
    • Pikiran Benar
    • Ucapan Benar
    • Perbuatan Benar
    • Penghidupan Benar
    • Usaha Benar
    • Perhatian Benar
    • Konsentrasi Benar
Itulah sesungguhnya Jalan Tengah, O, para bhikkhu, yang telah sempurna diselami oleh Tathagata, yang membukakan mata batin, yang menimbulkan pengetahuan, yang membawa ketentraman, kemampuan batin luar biasa, kesadaran agung, dan perealisasi Nibbana.

  1. Sekarang, O, para bhikkhu. Kebenaran Mulia tentang penderitaan yaitu: Kelahiran adalah penderitaan, usia tua adalah penderitaan, penyakit adalah penderitaan, kematian adalah penderitaan, berkumpul derngan yang tidak disenangi adalah penderitaan, berpisah dari yang dicintai adalah penderitaan, tidak memperoleh apa yang diharapkan adalah penderitaan, singkatnya Lima Kelompok Kemelakatan merupakan penderitaan.

  1. Sekarang, O, para bhikkhu, Kebenaran Mulia tentang sebab penderitaan, yaitu: Keinginan rendah yang menyebabkan tumimbal lahir, disertai dengan hawa nafsu yang menemukan kesenangan disana sini, yaitu:
    • Keinginan rendah akan kesenangan indera
    • Keinginan rendah akan penjelmaan
    • Keinginan rendah akan pemusnahan diri sendiri

  1. Sekarang, O, para bhikkhu, Kebenaran Mulia tentang Terhentinya Penderitaan yaitu: Terhentinya semua hawa nafsu tanpa sisa, melepaskannya, bebas, terpisah sama sekali dari keinginan rendah tersebut.

  1. Sekarang, O, para bhikkhu,  Kebenaran Mulia tentang Jalan Yang Menuju Terhentinya Penderitaan, tiada lain jalan mulia berunsur delapan yaitu:
    • Pengertian Benar
    • Pikiran Benar
    • Ucapan Benar
    • Perbuatan Benar
    • Penghidupan Benar
    • Usaha Benar
    • Perhatian Benar
    • Konsentrasi Benar

9.   Inilah Kebenaran Mulia tentang Pernderitaan. Demikianlah, O, para bhikkhu, mengenai segala sesuatu dhamma yang belum pernah saya dengar menjadi terang dan jelas. Timbulah pandangan, timbulah pengetahuan, timbulah kebijaksanaan, timbulah penembusan    , timbulah cahaya.

Inilah Kebenaran Mulia tentang penderitaan ini harus difahami. Demikianlah, O, para bhikkhu mengenai segala sesuatu dhamma yang belum pernah saya dengar menjadi terang dan jelas. Timbulah pandangan, timbulah pengetahuan, timbulah kebijaksanaan, timbulah penembusan, timbulah cahaya.

Inilah Kebenaran Mulia tentang penderitaan ini telah dipahami, demikianlah, O, para bhikkhu, mengenai segala sesuatu Dhamma yang belum pernah saya dengar menjadi terang dan jelas. Timbulah pandangan, timbulah pengetahuan, timbulah kebijaksanaan, timbulah penembusan, timbulah cahaya.

10. Inilah Kebenaran Mulia tentang Sebab Penderitaan.
Demikianlah, O, para bhikkhu, mengenai segala sesuatu Dhamma yang pernah saya dengar menjadi terang dan jelas. Timbulah pandangan, timbulah pengetahuan, timbulah kebijaksanaan, timbulah penembusan, timbulah cahaya.

Inilah Kebenaran Mulia tentang Sebab Penderitaan yang harus dikikis, demikianlah, O, para bhikkhu, mengenai segala sesuatu tentang Dhamma yang belum pernah saya dengar menjadi terang dan jelas. Timbulah pandangan, timbulah pengetahuan, timbulah kebijaksanaan, timbulah penembusan, timbulah cahaya.

Inilah Kebenaran Mulia tentang Sebab Penderitaan yang telah dikikis, demikianlah, O, para bhikkhu, mengenai segala sesuatu tentang Dhamma yang belum pernah saya dengar menjadi terang dan jelas. Timbulah pandangan, timbulah pengetahuan, timbulah kebijaksanaan, timbulah penembusan, timbulah cahaya.

11. Inilah Kebenaran Mulia tentang Terhantinya Penderitaan.
Demikianlah, O, para bhikkhu, mengenai segala sesuatu Dhamma yang pernah saya dengar menjadi terang dan jelas. Timbulah pandangan, timbulah pengetahuan, timbulah kebijaksanaan, timbulah penembusan, timbulah cahaya.

Inilah Kebenaran Mulia tentang Terhentinya Penderitaan yang harus dialami. Demikianlah, O, para bhikkhu, mengenai segala sesuatu tentang Dhamma yang belum pernah saya dengar menjadi terang dan jelas. Timbulah pandangan, timbulah pengetahuan, timbulah kebijaksanaan, timbulah penembusan, timbulah cahaya.
           
Inilah Kebenaran Mulia tentang Terhentinya Penderitaan yang telah dialami, demikianlah, O, para bhikkhu, mengenai segala sesuatu tentang Dhamma yang belum pernah saya dengar menjadi terang dan jelas. Timbulah pandangan, timbulah pengetahuan, timbulah kebijaksanaan, timbulah penembusan, timbulah cahaya.

12. Inilah Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Terhantinya Penderitaan.
Demikianlah, O, para bhikkhu, mengenai segala sesuatu Dhamma yang pernah saya dengar menjadi terang dan jelas. Timbulah pandangan, timbulah pengetahuan, timbulah kebijaksanaan, timbulah penembusan, timbulah cahaya.

Inilah Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Terhentinya Penderitaan yang harus dikembangkan. Demikianlah, O, para bhikkhu, mengenai segala sesuatu tentang Dhamma yang belum pernah saya dengar menjadi terang dan jelas. Timbulah pandangan, timbulah pengetahuan, timbulah kebijaksanaan, timbulah penembusan, timbulah cahaya.

Inilah Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Terhentinya Penderitaan yang telah dikembangkan, demikianlah, O, para bhikkhu, mengenai segala sesuatu tentang Dhamma yang belum pernah saya dengar menjadi terang dan jelas. Timbulah pandangan, timbulah pengetahuan, timbulah kebijaksanaan, timbulah penembusan, timbulah cahaya.

  1. Demikianlah selama pengetahuan dan pengertian saya tentang Empat Kebenaran Mulia sebagaimana adanya, masing-masing dalam tiga tahap dan dua belas segi pandangan telah sempurna betul, maka, O, para bhikkhu, saya tidak menyatakan kepada dunia bersama para dewa-dewa dan Mara-nya, kepada semua makhluk, termasuk dewa-dewa dan manusia, bahwa saya telah mencapai Kebijaksanaan Agung.

  1. Ketika Pengetahuan dan Pengertian saya tentang Empat Kebenaran Mulia sebagaimana adanya, masing-masing dalam tiga tahap dan dua belas segi pandangan telah sempurna; hanya pada saat itu O, para bhikkhu, Saya menyatakan kepada dunia bersama para dewa dan Mara-nya, kepada semua makhluk, termasuk dewa-dewa dan manusia, bahwa saya telah mencapai Kebijaksanaan Agung. Timbulah dalam diri saya pengetahuan dan pengertian “Tak tergoncangkan kebebasan batin saya, inilah kelahiran yang terakhir, tidak ada lagi tumimbal lahir lagi bagi saya”.

  1. Demikianlah sabda sang Bhagava; dan kelima bhikkhu itu merasa puas serta mengerti kata-kata Sang Bhagava. Tatkala khotbah ini sedang disampaikan timbulah pada Yang Ariya Kondanna Mata-Dhamma yang bersih tanpa noda: “Segala sesuatu muncuul karena ada sebabnya; segala sesuatu akan padam karena sebabnya tidak timbul”.

  1. Tatkala roda Dhamma telah diputar oleh Sang Bhagava, dewa-dewa bumi berseru serempak: Di dekat Benares, di Isipatana, di Migadaya, telah diputar roda Dhamma yang tanpa bandingnya oleh Sang Bhagava, yang tidak dapat dihentikan, baik oleh seorang Samana, Brahmana, Dewa, Mara, Brahma, maupun oleh siapapun di dunia”.

  1. Mendengar kata-kata dewa bumi, dewa-dewa Catummaharajika berseru serempak: Di dekat Benares, di Isipatana, di Migadaya, telah diputar roda Dhamma yang tanpa bandingnya oleh Sang Bhagava, yang tidak dapat dihentikan, baik oleh seorang Samana, Brahmana, Dewa, Mara, Brahma, maupun oleh siapapun di dunia.

  1. Mendengar gema kata-kata dewa-dewa Catummaharajika, dewa-dewa dari surga Tavatimsa, Yama, Tusita, Nimmanarati; Paranimitavasavati dan dewa-dewa alam brahma, juga berseru, “Didekat Benares, di Isipatana, di Migadaya, telah diputar roda Dhamma yang tanpa bandingnya oleh sang Bhagava, yang tidak dapat dihantikan, baik oleh seorang Samana, Brahmana, Dewa, Mara, Brahma, oleh siapapun di dunia.

  1. Demikianlah pada saat itu juga, seketika itu juga, dalam waktu yang sangat singkat suara itu menembus alam Brahma. Alam semesta ini dengan laksaan alamnya tergugah dan bergoyang disertai bunyi gemuruh dan cahaya yang gilang gemilang yang tak terukur, melebihi cahaya dewa, terlihat di dunia.

  1. Pada saat itu Sang Bhagava bersabda, “Kondanna telah mengerti, Kondanna telah mengerti”, Demikianlah mulanya bagaimana Yang Ariya Kondanna memperoleh nama julukan Anna Kondanna, Kondanna yang (pertama) mengerti.

(Samyutta Nikaya LVI: 11)

ANATTALAKKHANA SUTTA
(Khotbah Tentang Sifat Bukan Aku)


  1. “Demikianlah yang saya dengar”
Pada suatu ketika, Sang Bhagava bersemayam di dekat Benares, di Isipatana, di Taman Rusa (Migadaya). Di sana, Sang Bhagava bersabda kepada rombongan lima orang Bhikkhu: Assajji, Vappa, Bhadiya, Kondanna, Mahanama. “ O, para bhikkhu”, ”ya bhanthe” jawab kelima bhikkhu.
  1. O, para bhikkhu, badan jasmani bukan Aku.
Jika badan jasmani ini Aku, maka badan jasmani ini tidak menimbulkan penderitaan. Orang yang memiliki badan jasmani demikian akan berpikir “Biarlah badan jasmaniku seperti ini, biarlah badan jasmaniku tidak seperti ini”.
  1. O, para bhikkhu, perasaan bukan Aku.
Jika perasaan ini Aku, maka perasaan ini tidak menimbulkan penderitaan. Orang yang memiliki perasaan demikian, akan berpikir “Biarlah perasaanku seperti ini, biarlah perasaanku tidak seperti ini”.
Tetapi oleh karena perasaan ini bukan Aku, maka perasaan ini menimbulkan penderitaan. Tidak seorangpun dapat memiliki perasaan, dengan demikian ia tidak akan berpikir “Biarlah perasaanku seperti ini, biarlah perasaanku tidak seperti ini”.
  1. O, para bhikkhu, pencerapan bukan Aku.
Jika pencerapan ini Aku, maka pencerapan ini tidak menimbulkan penderitaan. Orang yang memiliki pencerapan demikian akan berpikir “Biarlah pencerapanku seperti ini, biarlah pencerapanku tidak seperti ini”.
Tetapi oleh karena pencerapan ini bukan Aku, maka pencerapan ini menimbulkan penderitaan. Tidak seorangpun dapat memiliki pencerapan, dengan demikian ia tidak akan berpikir “Biarlah pencerapanku seperti ini, biarlah pencerapanku tidak seperti ini”.
  1. O, para bhikkhu, bentuk pikiran bukan Aku.
Jika bentuk pikiran ini Aku, maka bentuk pikiran ini tidak menimbulkan penderitaan. Orang yang memiliki bentuk pikiran demikian akan berpikir “Biarlah bentuk pikiranku seperti ini, biarlah bentuk pikiranku tidak seperti ini”.
Tetapi oleh karena bentuk pikiran ini bukan Aku maka bentuk pikiran ini menimbulkan penderitaan. Tidak seorangpun dapat memiliki bentuk pikiran, dengan demikian ia tidak akan berpikir “Biarlah bentuk pikiranku seperti ini, biarlah bentuk pikiranku tidak seperti ini”.
  1. O, para bhikkhu, kesadaran indra bukan Aku.
Jika kesadaran indra ini Aku, maka kesadaran indra ini tidak menimbulkan penderitaan, orang yang memiliki kesadaran indra demikian akan berpikir “biarlah kesadaran indraku seperti ini, biarlah kesadaran indraku tidak seperti ini”.
Tetapi oleh karena kesadaran indra ini bukan Aku,maka kesadaran indra ini menimbulkan penderitaan. Tidak seorangpun dapat memiliki kesadaran indra dengan demikian ia tidak akan berpikir “Biarlah kesadaran indraku seperti ini, biarlah kesadaran indraku tidak seperti ini”.
  1. O, para bhikkhu, bagaimanakah pandanganmu:
“Apakah badan jasmani ini kekal atau tidak kekal?”
“Tidak kekal, Bhante”, jawab kelima bhikkhu.
“Apakah yang tidak kekal itu menyenangkan atau menyedihkan?”
“Menyedihkan Bhante”, jawawb kelima bhikkhu,
Sekarang, apa yang tidak kekal, yang menyedihkan dan tunduk pada perubahan, patut dipandang demikian: “Ini Milikku, ini Aku, ini Diriku?”
“Tidak, Bhante” jawab kelima bhikkhu.
  1. “Apakah perasaan ini kekal atau tidak kekal?”
“Tidak kekal, Bhante”, jawab kelima bhikkhu.
“Apakah yang tidak kekal itu menyenangkan atau menyedihkan?”
“Menyedihkan Bhante”, jawab kelima bhikkhu,
Sekarang, apa yang tidak kekal, yang menyedihkan dan tunduk pada perubahan, patut dipandang demikian: “Ini Milikku, ini Aku, ini Diriku?”
“Tidak, Bhante”, jawab kelima bhikkhu.
  1. “Apakah pencerapan ini kekal atau tidak kekal?”
“Tidak kekal, Bhante”, jawab kelima bhikkhu.
“Apakah yang tidak kekal itu menyenangkan atau menyedihkan?”
“Menyedihkan Bhante”, jawab kelima Bhikkhu.
Sekarang, apa yang tidak kekal, yang menyedihkan dan tunduk pada perubahan, patut dipandang demikian: “Ini Milikku,Ini Aku, Ini Diriku?”.
“Tidak Bhante”, jawab kelima bhikkhu.
  1. “Apakah bentuk pikiran ini kekal atau tidak kekal?”
“Tidak kekal, Bhante”,  jawab kelima bhikkhu.
“Apakah yang tidak kekal itu menyenangkan atau menyedihkan?”
“Menyedihkan Bhante”, jawab kelima Bhikkhu.
Sekarang, apa yang tidak kekal, yang menyedihkan dan tunduk pada perubahan, patut dipandang demikian: “Ini Milikku,Ini Aku, Ini Diriku?”.
  1. “Apakah kesadaran indera ini kekal atau tidak kekal?”
“Tidak kekal, Bhante”,  jawab kelima bhikkhu.
“Apakah yang tidak kekal itu menyenangkan atau menyedihkan?”
“Menyedihkan Bhante”, jawab kelima Bhikkhu.
Sekarang, apa yang tidak kekal, yang menyedihkan dan tunduk pada perubahan, patut dipandang demikian: “Ini Milikku,Ini Aku, Ini Diriku?”.
  1. Demikianlah, O, para bhikkhu, setiap badan jasmani baik yang lalu, yang akan datang maupun yang sekarang ada, baik kasar maupun halus, baik dalam diri sendiri maupun di luar diri sendiri, baik rendah maupun luhur, baik jauh maupun dekat,sepatutnya dipandang dengan Pengertian Benar, demikianlah hendaknya: “Ini Milikku,Ini Aku, Ini Diriku”,
  2. Demikianlah, O, para bhikkhu, setiap perasaan apapun baik yang lalu, yang akan datang maupun yang sekarang ada, baik kasar maupun halus, baik dalam diri sendiri maupun di luar diri sendiri, baik rendah maupun luhur, baik jauh maupun dekat,sepatutnya dipandang dengan Pengertian Benar, demikianlah hendaknya: “Ini Milikku,Ini Aku, Ini Diriku”,
  3. Demikianlah, O, para bhikkhu, setiap pencerapan apapun baik yang lalu, yang akan datang maupun yang sekarang ada, baik kasar maupun halus, baik dalam diri sendiri maupun di luar diri sendiri, baik rendah maupun luhur, baik jauh maupun dekat,sepatutnya dipandang dengan Pengertian Benar, demikianlah hendaknya: “Ini Milikku,Ini Aku, Ini Diriku”,
  4. Demikianlah, O, para bhikkhu, setiap bentuk pikiran apapun baik yang lalu, yang akan datang maupun yang sekarang ada, baik kasar maupun halus, baik dalam diri sendiri maupun di luar diri sendiri, baik rendah maupun luhur, baik jauh maupun dekat,sepatutnya dipandang dengan Pengertian Benar, demikianlah hendaknya: “Ini Milikku,Ini Aku, Ini Diriku”,
  5. Demikianlah, O, para bhikkhu, kesadaran indera apapun baik yang lalu, yang akan datang maupun yang sekarang ada, baik kasar maupun halus, baik dalam diri sendiri maupun di luar diri sendiri, baik rendah maupun luhur, baik jauh maupun dekat,sepatutnya dipandang dengan Pengertian Benar, demikianlah hendaknya: “Ini Milikku,Ini Aku, Ini Diriku”,
  6. O, para bhikkhu, apabila siswa Ariya yang telah mendengar Kebenaran ini dan telah memahaminya, dia akan menjauhkan diri dari kemelekatan perasaan, dia menjauhkan diri dari kemelekatan bentuk pikiran, dia menjauhkan diri dari kemelekatan kesadaran indera.
  7. Apabila dia telah menjauhkan diri dari semuanya itu, hawa nafsu menjadi padam. Dengan padam nya hawa nafsu, dia terbebas apabila dia telah bebas, timbulah pengetahuan bahwa ia telah bebas. Dia memahami “Tumimbal lahir telah terhenti, telah tercapai hidup suci, tidak ada lagi apa yang harus dikerjakan, tidak kembali lagi ke dunia ini”.
  8. Demikianlah sabda Sang Bhagava, Kelima bhikkhu merasa puas dan mengerti sabda Beliau.
  9. Sewaktu khotbah ini disampaikan, batin kelima bhikkhu tersebut tidak lagi dikotori oleh kemelekatan.



     (Samyutta-Nikaya XXII, 59)




ADITTAPARIYAYA SUTTA
(Khotbah tentang Kebakaran)

  1. Demikianlah yang saya dengar:
Pada suatu ketika Sang Bhagava berdiam di Gaya, di Gayasisa bersama dengan seribu bhikkhu.
  1. Di sana Sang Bhagava bersabdakepada para bhikkhu: O, para bhikkhu. Semuanya terbakar. Apakah yang terbakar itu ?
Mata terbakar, bentuk atau wujud terbakar, kesadaran melihat terbakar, kontak mata terbakar, demikian juga apapun yang dirasakan sebagai sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang tidak menyenangkan, tidak ditimbulkan oleh kontak mata bersama syarat-syaratnya juga terbakar.
Apakah yang membakarnya?
Dibakar oleh api Keserakahan, dibakar oleh api Kebencian, dibakar oleh api Kegelapan Batin; Saya katakana, terbakar oleh kelahiran, usia tua, kematian, kesedihan, ratap tangis, penderitaan, yang tidak menyenangkan, dan putus asa.
  1. Telinga terbakar, suara terbakar, kesadaran mendengar terbakar, kontak telinga terbakar, demikian juga apapun yang dirasakan sebagai sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang tidak menyenangkan, tidak ditimbulkan oleh kontak mata bersama syarat-syaratnya juga terbakar.
Apakah yang membakarnya?
Dibakar oleh api Keserakahan, dibakar oleh api Kebencian, dibakar oleh api Kegelapan Batin; Saya katakana, terbakar oleh kelahiran, usia tua, kematian, kesedihan, ratap tangis, penderitaan, yang tidak menyenangkan, dan putus asa.
  1. Hidung terbakar, bebauan terbakar, kesadaran membaui terbakar, kontak hidung terbakar demikian juga apapun yang dirasakan sebagai sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang tidak menyenangkan, tidak ditimbulkan oleh kontak mata bersama syarat-syaratnya juga terbakar.
Apakah yang membakarnya?
Dibakar oleh api Keserakahan, dibakar oleh api Kebencian, dibakar oleh api Kegelapan Batin; Saya katakana, terbakar oleh kelahiran, usia tua, kematian, kesedihan, ratap tangis, penderitaan, yang tidak menyenangkan, dan putus asa.
  1. Lidah terbakar, rasa terbakar, kesadaran mengecap terbakar, kontak lidah terbakar demikian juga apapun yang dirasakan sebagai sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang tidak menyenangkan, tidak ditimbulkan oleh kontak mata bersama syarat-syaratnya juga terbakar.
Apakah yang membakarnya?
Dibakar oleh api Keserakahan, dibakar oleh api Kebencian, dibakar oleh api Kegelapan Batin; Saya katakana, terbakar oleh kelahiran, usia tua, kematian, kesedihan, ratap tangis, penderitaan, yang tidak menyenangkan, dan putus asa.
  1. Jasmani terbakar, sentuhan yang dirasakan jasmani terbakar, kesadaran sentuhan terbakar, kontak jasmani terbakar demikian juga apapun yang dirasakan sebagai sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang tidak menyenangkan, tidak ditimbulkan oleh kontak mata bersama syarat-syaratnya juga terbakar.
Apakah yang membakarnya?
Dibakar oleh api Keserakahan, dibakar oleh api Kebencian, dibakar oleh api Kegelapan Batin; Saya katakana, terbakar oleh kelahiran, usia tua, kematian, kesedihan, ratap tangis, penderitaan, yang tidak menyenangkan, dan putus asa.
  1. Pikiran terbakar, obyek pikiran terbakar, kesadaran berpikir terbakar, kontak pikiran terbakar demikian juga apapun yang dirasakan sebagai sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang tidak menyenangkan, tidak ditimbulkan oleh kontak mata bersama syarat-syaratnya juga terbakar.
Apakah yang membakarnya?
Dibakar oleh api Keserakahan, dibakar oleh api Kebencian, dibakar oleh api Kegelapan Batin; Saya katakana, terbakar oleh kelahiran, usia tua, kematian, kesedihan, ratap tangis, penderitaan, yang tidak menyenangkan, dan putus asa.
  1. O, para bhikkhu, apabila siswa Ariya yang telah mendengar Dhamma dan telah memahaminya, dia menjauhkan diri dari kegemaran mata, dia menjauhkan diri dari kegemaran bentuk atau wujud, dia menjauhkan diri dari kegemaran kesadaran melihat, dia menjauhkan diri dari kegemaran kontak mata, dan apapun yang dirasakan sebagai sesuatu yang bukan yang menyenangkan, atau bukan yang tidak menyenangkan, yang ditimbulkan oleh kontak mata bersama syarat-syaratnya. Maka dia telah menjauhkan diri dari semua kegemaran itu.
  2. Dia menjauhkan diri dari kegemaran telinga, dia menjauhkan diri dari kegemaran suara, dia menjauhkan diri dari kegemaran kesadaran mendengar, dia menjauhkan diri dari kegemaran kontak telinga, dan apapun yang dirasakan sebagai sesuatu yang bukan yang menyenangkan, atau bukan yang tidak menyenangkan, yang ditimbulkan oleh kontak telinga bersama syarat-syaratnya. Maka dia telah menjauhkan diri dari semua kegemaran itu.
  3. Dia menjauhkan diri dari kegemaran hidung, dia menjauhkan diri dari kegemaran bebauan, dia menjauhkan diri dari kegemaran kesadaran membaui, dia menjauhkan diri dari kegemaran kontak hidung, dan apapun yang dirasakan sebagai sesuatu yang bukan yang menyenangkan, atau bukan yang tidak menyenangkan, yang ditimbulkan oleh kontak hidung bersama syarat-syaratnya. Maka dia telah menjauhkan diri dari semua kegemaran itu.
  4. Dia menjauhkan diri dari kegemaran lidah, dia menjauhkan diri dari kegemaran rasa, dia menjauhkan diri dari kegemaran kesadaran mengecap, dia menjauhkan diri dari kegemaran kontak lidah, dan apapun yang dirasakan sebagai sesuatu yang bukan yang menyenangkan, atau bukan yang tidak menyenangkan, yang ditimbulkan oleh kontak lidah bersama syarat-syaratnya. Maka dia telah menjauhkan diri dari semua kegemaran itu.
  5. Dia menjauhkan diri dari kegemaran jasmani, dia menjauhkan diri dari kegemaran sentuhan, dia menjauhkan diri dari kegemaran kesadaran sentuhan, dia menjauhkan diri dari kegemaran kontak jasmani dan apapun yang dirasakan sebagai sesuatu yang bukan yang menyenangkan, atau bukan yang tidak menyenangkan, yang ditimbulkan oleh kontak jasmani bersama syarat-syaratnya. Maka dia telah menjauhkan diri dari semua kegemaran itu.
  6. Dia menjauhkan diri dari kegemaran pikiran, dia menjauhkan diri dari kegemaran obyek pikiran, dia menjauhkan diri dari kegemaran kesadaran berpikir, dia menjauhkan diri dari kegemaran kontak pikiran, dan apapun yang dirasakan sebagai sesuatu yang bukan yang menyenangkan, atau bukan yang tidak menyenangkan, yang ditimbulkan oleh kontak pikiran bersama syarat-syaratnya. Maka dia telah menjauhkan diri dari semua kegemaran itu.
  7. Apabila dia telah menjauhkan diri dari semuanya itu, hawa nafsu menjadi padam. Dengan padamnya hawa nafsu  dia terbebas. Apabila dia telah bebas, timbulah pengetahuan bahwa dia telah bebas, dia memahami:
Tumimbal lahir telah terhenti
Telah tercapai hidup suci
Tidak ada lagi yang harus dikerjakan
Tidak kembali lagi ke dunia ini.
  1. Demikianlah sabda Sang Bhagava. Keseribu orang Bhikkhu merasa puas dan mengerti Sabda Sang Bhagava.


Sewaktu khotbah ini disampaikan, batin keseribu bhikkhu tersebut tidak lagi dikotori oleh kemelekatan.




(Samyutta-Nikaya XXXV, 28)

OVADAPATIMOKKHADIPATHA

Sang ArahantaSamma Sambuddha, Yang Mahasuci, Yang Mahatahu, Yang Mahabijaksana telah bersabda tentang Ovadapatimokkha yang terdiri atas tiga syair sebagai berikut:

            Kesabaran merupakan pelaksanaan Dhamma yang tertinggi;
            Para Buddha bersabda, Nibbana yang tertinggi.
Jika seseorang yang telah menjadi bhikkhu masih menyakiti, merugikan orang lain,
Maka sesungguhnya dia bukan seorang samana.

            Janganlah berbuat jahat,
            Tambahlah kebajikan,
            Sucikan pikiran.
            Inilah ajaran para Buddha.

Tidak menghina, tidak menyakiti, mengendalikan diri selaras dengan Patimokkha, makan secukupnya dan tidak berlebih-lebiha, hidup ditempat yang sunyi, berusaha melatih Samadhi, inilah Ajaran para Buddha.

Sang Arahanta, Samma Sambuddha, Yang Mahasuci, Yang Mahatahu, Yang Mahabijaksana, dengan cara yang baik telah mengutarakan tentang kemoralan, konsentrasi dan kebijaksanaan.

Bagaimanakah Sang Bhagava mengutarakan tentang kemoralan itu? Sang Bhagava telah mengutarakan dengan baik bagaimana pelaksanaan kemoralan, yang merupakan tingkat pengamalan yang dasariah. Sang Bhagava telah mengutarakan pula dengan baik, bagaimana pelaksanaan kemoralan, yang merupakan tingkat pengamalan yang lebih tinggi.

Bagaimanakah pelaksanaan kemoralan, yang merupakan tingkat pengamalan yang dasariah itu? Sang Bhagava bersabda: “Ia adalah seorang siswa mulia yang:
Menghindari membunuh makhluk hidup
Menghindari mengambil barang yang tidak diberikan
Menghindari berbuat asusila
Menghindari berdusta, memfitnah, berkata kasar dan omong kosong.
Menghindari segala makanan atau minuman keras yang menyebabkan lemahnya kewaspadaan.
Demikianlah pelaksanaan kemoralan, yang merupakan tingkat pengamalan yang dasariah yang dibabarkan oleh Sang Bhagava

Bagaimanakah Sang Bhagava mengutarakan tentang konsentrasi itu? Sang Bhagava telah membabarkan bagaimana pelaksanaan konsentrasi, yang merupakan tingkat yang dasariah. Sang Bhagava telah membabarkan bagaimana pelaksanaan konsentrasi, yang merupakan tingkat yang lebih tinggi.

Bagaimanakah pelaksanaan konsentrasi, yang merupakan tingkat yang dasariah ini? Sang Bhagava bersabda: “Ia adalah seorang siswa mulia jika ia dapat melepaskan kekotoran batin dari pikiran, kemudian dapat meraih konsentrasi dan penunggalan pikiran”.
Demikianlah pelaksanaan konsentrasi, yang merupakan tingkat yang dasariah, yang telah dibabarkan oleh Sang Bhagava.

Bagaimanakah pelaksanaan konsentrasi, yang merupakan tingkat yang lebih tinggi itu? Sang Bhagava bersabda: “Demikianlah kalau ia (bhikkhu) dapat menjauhkan diri dari keinginan nafsu indera, dapat menjauhkan diri dari perbuatan tidak baik, kemudianmasuk dan berdiam dalam Jhana pertama, yakni suatu keadaan batin yang bergembira dan berbahagia yang masih disertai dengan pengarahan pikiran pada obyek dan usaha mempertahankan pikiran pada obyek. Kemudian setelah membebaskan diri dari Vitakka dan Vicara, ia memasuki dan berdiam dalam Jhana kedua, yakni keadaan batin yang bergembira dan bahagia, tanpa disertai dengan Vitakka dan Vicara. Selanjutnya, ia membebaskan diri dari perasaan gembira dan berdiam dalam keadaan batin seimbang, yang disertai dengan perhatian murni dan jelas. Tubuhnya diliputi dengan perasaan bahagia, yang dikatakan oleh para Ariya sebagai kebahagiaan yang dimiliki oleh mereka yang batinnya seimbangdan penuh perhatian murni, ia memnasuki serta berdiam dalam Jhana ketiga. Kemudian dengan menyingkirkan perasaan bahagia dan tidak bahagia, dengan menghilangkan perasaan senang dan tidak senang yang telah dirasakan sebelumnya ia memasuki dan berdiam dalam Jhana keempat, yakni suatu keadaan yang benar-benar seimbang, yang memiliki perhatian murni, bebas dari perasaan bahagia dan tidak bahagia”,
Demikianlah pelaksanaan konsentrasi, yang merupakan tingkat yang lebih tinggi, yang dibabarkan oleh Sang Bhagava.

Bagaimanakah Sang Bhagava membabarkan tentang kebijaksanaan itu? Sang Bhagava telah membabarkan bagaimana pelaksanaan kebijaksanaan yang merupakan tingkat yang dasariah. Sang Bhagava telah membabarkan pula pelaksanaan kebijaksanaan yang merupakan tingkat yang lebih tinggi.
Bagaimanakah pelaksanaan kebijaksanaan, yang merupakan tingkat yang dasariah itu? Sang Bhagava bersabda: “Demikianlah seorang siswa mulia memiliki kebijaksanaan, jika ia mengerti adanya penderitaan dan sebabnya, jika ia mengerti ada terhentinya penderitaan dan jalan yang menuju pada terhentinya penderitaan.
Demikianlah pelaksanaan kebijaksanaan yang merupakan tingkat yang dasariah yang dibabarkan oleh Sang Bhagava.

Bagaimanakah pelaksanaan kebijaksanaan yang merupakan, tingkat yang lebih tinggi itu? Sang Bhagava bersabda: “Seorang bhikkhu mengetahui sebagaimana adanya, inilah penderitaan; ia mengetahui sebagaimana adanya, inilah sebab penderitaan; ia mengetahui sebagaimana adanya, inilah terhentinya penderitaan; ia mengetahui sebagaimana adanya, inilah jalan yang menuju terhentinya penderitaan.
Demikianlah pelaksanaan kebijaksanaan yang merupakan tingkat yang lebih tinggi, yang telah dibabarkan oleh sang Bhagava.

Dengan dilandasi oleh kemoralan yang telah dikembangkan dengan baik, maka konsentrasi akan memberikan pahala dan manfaat yang besar. Dengan dilandasi oleh konsentrasi yang telah dikembangkan dengan baik, maka kebijaksanaan akan memberikan pahala dan manfaat yang besar. Dengan dilandasi oleh kebijaksanaan yang telah dikembangkan dengan baik, maka pikiran akan terbebas dari segenap noda, yakni noda nafsu indera, noda perwujudan dan noda ketidaktahuan.

Pada saat menjelang Parinibbana Sang Bhagava telah bersabdayang merupakan pesan terakhir: “Kini, O para bhikkhu, kuberitahukan kepadamu bahwa, segala sesuatu yang bersyarat/ berkondisi/ terbentuk itu tidak kekal. Karena itu berjuanglah dengan kesungguhan hati untuk membebaskan dirimu” selanjutnyaSang Bhagava bersabda: “O para bhikkhu, sebagaimana semua jenis telapak kaki dari berbagai macam makhluk dapat masuk kedalam masuk kedalam telapak kaki gajah karena besarnya, maka demikian pula, O para bhikkhu, kebijakan-kebijakan apapun itu semuanya berasal dari perhatian (kewaspadaan); disebabkan oleh perhatian. Karena perhatian merupakan hal yang utama diantara semua hal lainnya, maka kalian harus melatihnya dengan baik”.

Para bhikkhu menyatakan: “Kami akan berusaha menjalankan kemoralan yang luhur, konsentrasi yang luhur, kebijaksanaan yang luhur dengan penuh perhatian. Kami akan menaati dan berlatih dengan sungguh-sungguh”.























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar